Thursday, July 29, 2010

Media, Seminar, Informasi

Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami pada Sabtu 24 Juli lalu, di sebuah seminar. Mungkin masih ada penyelenggara/panitia seminar yang bingung menghadapi kedatangan seorang penulis dari media.

Seorang jurnalis/penulis biasanya menjadikan seminar sebagai suatu ajang berkenalan atau kesempatan bertemu dengan narasumber, memperoleh informasi terkini, dan menambah wawasan di suatu bidang.

Sehingga ketika kami pertama kali membaca suatu acara seminar yang biasanya dipublikasikan di media massa atau elektronik, atau memang ada undangan dikirim ke redaksi, maka di otak kami akan segera melihat judul seminar, apa materi presentasi dan siapa tokoh yang berbicara, lalu kira-kira apakah topik sesuai dengan bidang liputan yang digarap. Tentu saja lokasi dan waktu acara menjadi pertimbangan.

Seperti Sabtu kemarin saya datang ke acara seminar yang diselenggarakan di suatu perguruan tinggi yang berlokasi di Depok. Seminar ini menyajikan tema peran profesi X di era pasar bebas AFTA. Suatu topik yang rasanya cukup menarik karena saya kebetulan akan membuat artikel tentang profesi dan kebutuhan sumber daya manusianya.

Sebenarnya bagai orang mau kulo nuwon ke hajatan seseorang, sehari sebelumnya saya mengirimkan surat elektronik berisi keinginan untuk datang dan konfirmasi ke alamat e-mail panitia yang tertera di iklan seminar tersebut. Iklan itu terdapat di dalam website perguruan tinggi terkait. (Tapi ternyata memang baru sampai di hari Minggu …thanks to office network*lemot’mode’on*).

Kemudian di hari-H saya pun datang ke tempat acara seminar sekitar pukul 09.00 wib. Di depan pintu saya disambut oleh panitia dan saya pun memperkenalkan diri dari institusi media dan menyampaikan maksud ingin mengikuti seminar tersebut.

“Tapi berarti mbak kan mau meliput?” kata panitia perempuan yang mengajak saya bicara.

Di otak saya segera melintas definisi “meliput” berarti saya akan mengulas acara seminar ini.

“Iya saya masih mencari informasi, mbak,” balas saya kepada panitia berjilbab berperawakan padat tersebut. Ini jawaban standar pula karena kami para jurnalis biasanya malas menerima pertanyaan beberapa hari atau minggu kemudian dari penyelenggara acara, apakah liputan sudah naik cetak atau belum. Ini secara tidak langsung membebani perasaan seolah suatu acara yang didatangi sudah pasti layak muat.

“Tapi mbak, kami sudah punya media partner,” balasnya.

Lha…!

Memang suatu seminar membutuhkan dana dan publikasi. Makanya panitia menggandeng sponsor acara untuk memberikan dana berupa uang tunai maupun non tunai, termasuk punya media rekan kerjasama sebagai tempat mempublikasikan acara guna menggaet peserta seminar. Media partner ini biasanya juga akan memuat liputan dari penyelenggaraan acara. Tapi bukan berarti seminar itu menjadi privilege media partner sehingga wartawan media lain tidak boleh datang dan meliput selama kegiatan berlangsung.

Akan tetapi, saya rasanya lebih terbiasa jika panitia minta kartu nama atau silahkan juga jika ingin melihat ID-card (meskipun yang ada cuma ID-card untuk absensi kantor). Seandainya saya menjadi panitia acara, ini adalah cara sopan atau tersamar untuk mengetahui apakah orang di depan saya adalah jurnalis benar atau gadungan.

Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”

Nah, biasanya jurnalis yang ditanya akan menjawab misalkan bahwa nama tersebut sudah pindah ke desk liputan lain atau mengakui dirinya anak bawang sementara nama yang disebutkan panitia adalah senior.

Tapi memang saya dipersilahkan untuk mengikuti kegiatan seminar. Lalu saya pun duduk di kursi baris belakang. Ahya, kursi baris belakang favorit para wartawan karena dekat dengan pintu keluar. Ketika kami merasa bahan tulisan sudah cukup maka kami bisa berlalu pulang dengan mudah tanpa mendapat pandangan mata dari peserta lain. Alasan lain duduk di baris tepi supaya gampang mencegat pembicara keluar ruangan.

Saat itu presentasi sedang berlangsung…dan voila, kuping saya mendengar penyaji materi mengucapkan kalimat, “Kompetensi yang dibutuhkan seorang (profesi) di saat ini ….” wauw pas dengan hal yang saya butuhkan. Saya pun segera sibuk mencatat, tapi tiba-tiba seseorang menyapa saya, “Maaf kursi paling belakang ini untuk panitia,” seorang perempuan panitia berambut lurus sebahu berperawakan ramping berkata demikian. Suaranya sopan dan ramah, tapi tetap saya setengah tidak percaya dengan perkataan wanita tersebut. Muka bengong saya membuat dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih sama.

“Tapi gapapa kan saya disini dulu? Oh ya kalau memang saya diusir suruh pindah juga bilang saja,” kata saya seraya melihat sisi kiri kanan bangku sederetan yang masih kosong melompong. (memancing bad mood di pagi hari ….)

Akhirnya perempuan itu mengiyakan dan berlalu. Selama mengikuti presentasi saya menyapu pandangan, dan melihat pria maupun perempuan berdiri di pinggir ruangan dalam jumlah cukup banyak dan tersebar. Di belakang saya pun ada yang berdiri dan duduk berbaur bersama meja penjualan produk sponsor. Mereka berpakaian seragam dalam atasan batik berwarna kelam, seperti baju yang dikenakan oleh dua wanita yang tadi berbicara dengan saya. Berarti mereka adalah panitia.

Saya jadi berpikir, panitia seperti apa yang tidak mengharapkan peserta seminar datang membludak dan berharap bisa duduk di kursi?

Lama-lama saya tidak merasa nyaman. Mungkin memang saya tidak diterima sejak awal? Tidak ada inisiatif panitia untuk memberikan saya materi presentasi. Saya pun sudah enggan bertanya dan lebih baik meminjam materi presentasi dari rekan sebelah saya. Seorang jurnalis pantang pulang tanpa bawa hasil, menjadi pikiran saya saat itu mengingat perjuangan datang dan rencana awal datang ke seminar.

Setelah puas membaca cepat materi presentasi para pembicara yang dikemas dalam satu buku seukuran buku tulis, mencatat poin-poin penting dan memotret materi dengan kamera BlackBerry, saya pun berlalu pergi.

Tulisan ini saya buat bukan ingin jurnalis disanjung ketika datang ke suatu acara. Ini bukan pikiran bijaksana di era media sudah membludak jumlahnya dan di sisi lain masyarakat bisa menyerap informasi dari media mainstream, microbloging dan web forum.

Akan tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi cerita kecil yang cukup berguna jika lain kali datang ke peliputan acara atau suatu waktu saya atau Anda menjadi panitia kegiatan seminar.

Saya jadi berpikir apakah panitia seminar lebih mengharapkan kehadiran peserta yang membayar daripada seorang jurnalis yang ingin cari informasi gratis? Saya memang terlambat berpikir tentang hal ini, tapi jika dari awal panitia mengatakan harus membayar untuk masuk, tentu akan ada pertimbangan untuk merogoh kocek dengan asumsi perusahaan media tempat saya bekerja akan mengganti biaya tersebut demi kepentingan bahan penulisan.


*Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan minuman air kelapa F***** yang mengguyur haus tenggorokan, tapi sekaligus menyesal telah mengunyah pizza P*** *** yang dibagikan. Dalam perjalanan pulang saya merasa telah menjadi seorang tamu tak diundang mencari makan siang gratis. 


Profesi di Era Informasi

(Diterbitkan di : Koran Tempo, Sabtu 17 Juli 2010 - Suplemen Pendidikan - Suplemen Khusus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2010; klien : Swiss German University (SGU) )


Belajar di fakultas Teknologi Informasi membuka peluang menjadi profesional, peneliti atau wirausaha. Lalu perdalam ilmu melalui seminar, pelatihan atau pascasarjana.


Tahun lalu Indonesia berada di posisi kelima terbesar pengguna internet di Asia. Menurut data Internet World Stats (2009) Indonesia mempunyai 30 juta pengguna internet, dan berada di bawah Cina, Jepang, India, dan Korsel.

Angka ini meningkat 12,5 persen dibandingkan tahun 2000, sekaligus menunjukkan tingkat penetrasi dan pengguna internet di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun peningkatan pengguna ini juga membawa konsekuensi keamanan.

Semakin sering mengakses jaringan internet maka memperbesar resiko terpapar bahaya serangan malicious software atau malware. Malware atau perangkat perusak, adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem atau jaringan komputer tanpa izin pemilik. Virus komputer salah satu contoh malware.

Kedepan semakin perlu kepedulian terhadap keamanan jaringan. Paparan virus merusak data pada dokumen perusahaan, membuat pengguna komputer merasa terganggu, atau tidak menimbulkan efek akan tetapi berpotensi menyebar ke komputer lain.

Aktivitas menganalisis, mengetahui kelemahan sekaligus mencari cara mengamankan akses data membuka peluang profesi di bidang keamanan jaringan. Swiss German University (SGU) bakal menggelar workshop bertujuan membangun kepedulian sekaligus sosialisasi pentingnya riset di bidang malware.

Kegiatan bertajuk “Academy CERT Meeting” pada 17 Juli ini diselenggarakan bersama JPCERT CC (Japan Computer Emergency Response Team Coordination Center), Id-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure), dan EC-Council (International Council of E-Commerce Consultants).

“Universitas bisa menjadi lembaga riset dengan mengedepankan independensi penelitian, sekaligus menjawab ketergantungan terhadap antivirus luar negeri karena sejauh ini antivirus buatan lokal masih minim,” kata Head of Information System Services Department SGU, Charles Lim di Serpong awal pekan lalu.

Empat hari kemudian juga akan melangsungkan SGU MIT Seminar in IT Governance and Information Security Governance. “Seminar itu membuka wawasan praktisi atau peminat bahwa perlu ada sebuah tata kelola yang menjembatani antara dunia bisnis dengan teknologi informasi, dimana ada resiko-resiko yang timbul akibat implementasi teknologi informasi di perusahaan,” kata Heru P. Ipung, MIT Coordinator dan FIT Lecturer SGU pada kesempatan sama.

Keahlian khusus tentu dilandasi oleh pengetahuan dasar yang kuat. Perguruan tinggi dan dosen bertanggungjawab mengarahkan dan memberi landasan yang baik untuk mahasiswa berkembang sesuai minat karir.

Coordinator of IT Department Faculty of Information Technology SGU, James Purnama mengatakan mahasiswa Teknologi Informasi berpeluang untuk menjadi peneliti, profesional perusahaan atau wirausaha.

”Program studi IT di kampus kami mempelajari tentang jaringan (network) dan software engineering. Lalu konsentrasi kami pada perangkat lunak berbasis open source, dan kompetensi ke arah aplikasi bergerak seperti BlackBerry, iPhone atau sistem aplikasi berbasis android,” kata James seraya menambahkan ini sejalan dengan masa depan TI yang mengarah pada embedded system.

SGU memiliki dua program studi undergraduate atau setara sarjana S-1 di bidang Information Technology (IT)  masing-masing Information and Communication Technology (ICT) dan Information Systems (IS). Sedangkan untuk program pascasarjana ada dua pilihan konsentrasi, yaitu IT Security and Hacking Forensics dan IT Governance and Enterprise Architecture. Program sarjana maupun pascasarjana bekerjasama dengan asosiasi IT Profesional di bidangnya, yaitu EC-Council dan IASA. (DEWI RETNO)

Saturday, May 29, 2010

Kolaborasi Cantik Menembus Dunia

(Advertorial Carrefour Indonesia - Travelounge No.5 edisi April 2010)

Peritel Internasional Citarasa Indonesia

(Advertorial Carrefour Indonesia - Travelounge No. 4 edisi Maret 2010)



Pasar modern (hipermarket) menyediakan berbagai pilihan barang sekaligus memahami kebutuhan setempat.




Belanja bukan lagi sekadar kegiatan membeli barang kebutuhan. Ada yang menambahkannya sebagai pelepas penat, atau acara bersama keluarga.
Sehingga belakangan ini hipermarket atau pasar modern menjadi pilihan tempat belanja –khususnya- di kota-kota besar. Tempat belanja yang nyaman, tertata rapi dalam rak-rak teratur, keamanan, dan harga tak perlu ditawar-tawar tapi cukup bersaing, adalah alasan melirik hipermarket.

Selain itu hipermarket buka setiap hari, termasuk di hari libur, dengan jam operasional antara 10.00-22.00 merupakan waktu yang sesuai bagi pekerja. Ini juga dirasakan cocok bagi para ibu rumah tangga yang baru bisa beraktivitas setelah mengurus anak berangkat atau pulang sekolah.

Kendati mayoritas konsumen hipermarket hanya berbelanja untuk kebutuhan bulanan, sering digunakan untuk tempat rekreasi sekadar melepas penat.

Saat ini banyak hipermarket yang juga menyediakan barang-barang sekunder hasil produksi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Carrefour adalah salah satunya. Penyediaan barang di Carrefour hampir selalu melibatkan sektor UKM. Salah satu contoh nyata adalah menghadirkan private label (label toko) untuk memberi pelanggan banyak pilihan produk, dan produsen label toko umumnya adalah sektor UKM.

Belum lama ini, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meminta pengusaha ritel modern membuka kesempatan bagi UKM. Alasannya, para pelaku bisnis ritel sangat berpengaruh dalam menggalakkan penggunaan produk lokal. Permintaan Ibu Menteri ini disambut positif para pertitel modern. Bahkan Carrefour menyerap produk lokal hingga mencapai 90 persen dimana 70 persennya berasal dari UKM.

Makanan tradisional dan kerajinan lokal sudah menjadi pemandangan mudah ditemui di gerai-gerai pasar modern.

UNESCO pada Oktober tahun lalu telah mengukuhkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Hal ini ditanggapi positif Carrefour yang secara khusus menyediakan gerai busana batik di konter tekstil sehingga konsumen bisa mendapatkan busana batik cantik dengan harga terjangkau.

Carrefour juga menerjemahkan kukuhan UNESCO dengan mempersilahkan associate Carrefour menggunakan batik di hari Jumat. Keren, rapi, dan sekaligus melestarikan budaya negeri sendiri.

Anda dapat mencari kue-kue jajanan pasar produksi UKM seperti kue serabi, putu mayang, pastel isi, siomay, hingga pempek palembang di gerai pasar modern ini.

Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai yang tersebar di berbagai kota. Seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Medan, Palembang, Batam, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. (***)

Semua Ada di Hipermarket

(Rubrik Shopping - Travelounge No. 4 Maret 2010)


Kehadiran pasar modern seperti Carrefour, Giant dan Hypermart menjanjikan belanja praktis di satu tempat.


Bagi bocah belia di era sebelum 90-an, apa kenangan dalam benak Anda tentang pasar? Acara menemani ibu berbelanja yang semula riang gembira berubah sengsara gara-gara kondisi pasar yang becek, pengap, bau, ditambah tukang ikan hanya sejengkal jarak dengan toko kelontong.

Kue serabi atau talam ubi sebagai hadiah menemani ibu jadi tak terasa nikmatnya.

Tapi kini lupakan ingatan Anda tentang pasar tempat berpeluh keringat akibat ruangan miskin ventilasi udara.

Beberapa tahun belakangan hipermarket mengubah cara belanja masyarakat Indonesia. Jenis peritel yang diambil dari asal kata hypermarket, yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai pasar modern ini menawarkan berbelanja dalam suasana nyaman, praktis, sekaligus lengkap.

Hipermarket muncul di kota-kota besar dalam kurun 10 tahun belakangan ini.

Umumnya pasar modern menjadi anchor tenant atau penyewa ruang di pusat-pusat perbelanjaan strategis. Dengan demikian, pengunjung bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pengelola pusat perbelanjaan.

Ambil contoh keberadaan Carrefour di Blok M Square. Blok M Square dahulunya adalah pasar Melawai Blok M dan Aldiron Plaza yang dikembangkan menjadi suatu trade mall di daerah Jakarta Selatan. Carrefour menempati lantai 2 dan 3.

Bagi pembelanja yang enggan menitipkan tas berisi laptop bisa minta pada petugas di depan pintu masuk untuk mengaitkan semacam lock tag ke retsleting tas. Sehingga selama berbelanja, tas Anda dalam kondisi terkunci yang nantinya baru bisa dibuka oleh pelayan kasir.

Tentu ini demi keamanan bagi si pihak toko, sekaligus demi kenyamanan konsumen agar terhindar dari tangan jahil saat si empunya tas tengah asyik memilih barang.

Ruang belanja yang luas berpengaruh pada penyediaan barang yang serba ada. Tinggal bawa daftar belanja, lalu pilih produk sesuai selera. Tentukan berdasarkan merek, ukuran kebutuhan, serta harga.

Seperti penulis lepas Merry Magdalena yang berdomisili di Depok. Ibu satu putri ini merasa dipermudah dalam berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan kehadiran dua mal besar di sekitar rumahnya, yakni Depok Town Square dan Margo City.

Depok Town Square atau disingkat Detos mempunyai gerai Hypermart, sementara di Margo City memiliki Giant sebagai anchor tenant.

"Saya lebih sering ke Giant karena lokasi lebih dekat, tak perlu menyeberang, sehingga praktis. Termasuk beli makanan dan cemilan untuk putri saya," kata Merry.

Untuk urusan makanan, Carrefour, Giant dan Hypermart punya banyak ruang bagi konter makanan. Mau beli jajanan pasar, bakery & pastry, makanan khas pempek palembang yang bakal digoreng ketika Anda pesan, atau mengudap soto mie hangat-hangat langsung di tempat. Karena mereka pun memiliki semacam kafetaria di dalam areal belanja.

Selain ragam barang, kelebihan yang disediakan oleh pasar modern adalah penataan gerai yang rapi, sistematis dan terpisah. Bagi pembelanja yang pergi bersama keluarga, hipermarket memudahkan Anda dengan menyediakan children cart, troli belanja berbentuk mobil-mobilan agar si kecil tenang selama Anda memilih barang.

Praktis berbelanja dalam satu tempat. Ini yang ditawarkan karena hipermarket.

Sudah pasti gunakan daftar belanja jika ingin berbelanja di sana. Ini bertujuan agar Anda tetap fokus dengan kebutuhan dan bukan keinginan. Namun karena ini pasar modern dimana beragam barang tersedia, bisa jadi Anda memang menemukan benda yang selama ini dicari.

Jika membawa anak, sebaiknya membawa asisten atau anggota keluarga yang lebih tua. Sehingga bisa membantu mengawasi si kecil.

Sudah pasti tempat berbelanja bakal penuh pengunjung di akhir pekan dan hari libur. Siasati dengan datang awal, biasanya hipermarket buka pada pukul 10.00. Kalau Anda datang pada saat toko baru buka, selain suasana masih relatif sepi dan lebih leluasa belanja.

Perhatikan pula brosur yang dicetak oleh peritel yang isinya penawaran harga khusus. Brosur ini biasanya disediakan di depan pintu masuk, berisi penawaran harga diskon untuk produk-produk tertentu atau dalam penawaran beli 2 gratis 1.

Tentu saja, kenakan busana dan alas kaki senyaman mungkin. Selamat berbelanja!

(**)

Tuesday, December 29, 2009

Profesi Kreatif yang Menjanjikan

(Dimuat di : PCplus No. 348, 8-21 Desember 2009)



Hidupnya industri komputer berdampak pada jenis industri lainnya. Salah satunya adalah industri kreatif seperti desain multimedia, periklanan, illustrator, dan desain interior.


Di arena animasi digital misalnya, film kartun animasi “Finding Nemo” besutan Disney/Pixar berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp 290 miliar, sementara “The Incredibles”, yang pembuatannya memakan biaya Rp 874 miliar, sukses meraup laba hingga Rp 1,37 triliun khusus di pasar AS saja setelah ditayangkan selama 10 hari.

Di kancah permainan, industri game di AS sukses mencetak pendapatan sekitar Rp 60 triliun sepanjang tahun 2005. Art director, dan art designer disebut-sebut merupakan tenaga yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan game – peluang bagi Anda yang berminat bekerja sambil bermain.


Kreativitas Bisa Diciptakan
Berminat menjadi seorang profesional di bidang seni dan desain?
Anda tak perlu mengkhawatirkan soal kurang atau tidak adanya bakat sejak lahir atau talenta. Anda bisa mempelajari keahlian yang dibutuhkan di sekolah-sekolah formal di bidang seni dan desain. Intinya, kreativitas bisa diciptakan, tidak semata ada karena memang dikaruniai bakat terpendam.

Kini, sekolah-sekolah desain tak hanya memadukan program yang akan mengasah rasa seni mahasiswa. Mereka juga melatih intuisi bisnis supaya peserta didiknya bisa langsung aplikatif ketika terjun ke dunia kerja sebagai pegawai ataupun menciptakan usaha sendiri.


Desain Grafis & Ilustrasi
Sebagai contoh, sebuah sekolah desain di Malaysia memiliki silabus Desain Komunikasi dengan pilihan program Graphic Design & Illustration dan Multimedia Design.

Jurusan Desain Grafis dan Ilustrasi akan mengajak peserta studi berpikir kreatif dalam memanfaatkan program piranti lunak yang tersedia. Para lulusan berpeluang bekerja di berbagai bidang seperti studio desain, rumah iklan, konsultan merek dan identitas, media, corporate-In-house Design, serta percetakan.

Selain itu, lulusan sekolah tersebut juga bisa saja membuka studio sendiri dengan kemampuannya mendesain sampul buku, iklan, webpage, logo/identitas korporat, sampai menghasilkan merek dagang dan identitas suatu produk. Sedangkan sebagai pekerja profesional, ia dapat merintis karier sebagai direktur kreatif; illustrator, art director, design director, type designer, komikus, desainer ekshibisi hingga account executive.


Desain Multimedia
Sedangkan program Desain Multimedia siap membekali siswanya kemampuan multimedia interaktif atau keahlian untuk menggunakan teknologi komputer grafis atau proses media digital untuk menciptakan gambar, suara, dan media interaktif lainnya.

Dengan keahlian di bidang Animasi 2D dan 3D, serta video digital, mereka bisa menekuni profesi sebagai multimedia designer, web designer, video editor, motion graphic designer, art director, graphic designer, atau pengajar di ilmu terkait.

Sebagai jebolan program Desain Multimedia, Anda berpeluang bekerja di Studio Multimedia, Studio Animasi, perusahaan pembuat games dan piranti lunak, biro iklan, Production House (PH) atau agensi Web. (Dewi Retno)

Thursday, September 17, 2009

Bidang Kajian, Menelaah Lebih Dalam

Dimuat di : Koran Tempo, 3 Juni 2009

Program pascasarjana UI multidisiplin ilmu. Selama ini dikenal sebagai Program Kajian terdiri dari 11 program pilihan.


Saat ini Anda sudah meraih gelar Sarjana Strata-1 (S1), namun ingin menambah kemampuan akademik sekaligus memiliki integritas keilmuan yang tinggi di bidang multidisplin?

Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) adalah program studi Strata-2 (S2) dan S3 yang melatih para peserta mengkaji setiap masalah dari berbagai sudut pandang.

Program studi multidisiplin saat ini terdiri dari 11 Program Magister meliputi Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, Ilmu Lingkungan, Pengembangan Perkotaan, Kajian Kependudukan dan Ketenagakerjaan, dan Wilayah Amerika. Selain itu, terdapat Program Studi Kajian Wilayah Jepang, Kajian Wanita, Kajian Ilmu Kepolisian, Kajian Timur Tengah dan Islam, Kajian Wilayah Eropa dan Teknologi Biomedis.

“Program pascasarjana bertujuan melahirkan lulusan yang punya keahlian atau kemampuan akademik lebih dalam, dan lebih luas serta keilmuan lebih tinggi,” kata Suminto, S.Sos., B.Ak., M.Si, Manajer Program Pascasarjana UI di Jakarta, akhir pekan lalu.

Latar belakang S1 bebas, dan bila program tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan S1 peserta akan mendapat matrikulasi atau pra-program selama 1 semester, sebelum lulus Tes Potensi Akademik (TPA).

Menurut Suminto, jika 9 tahun sebelumnya peminat kebanyakan dosen. ”Belakangan ini tidak hanya kalangan akademisi, praktisi juga banyak yang tertarik (belajar),” katanya.

Sebagai contoh, wartawan Kompas Maria Hartiningsih peraih penghargaan penegakan hak asasi manusia di Indonesia Yap Thiam Hien pada 2003, merupakan alumnus Program Kajian Wanita.

Selain perkuliahan reguler, peserta juga mengerjakan riset, studi mandiri, tugas-tugas, atau praktikum seperti di program Teknologi Biomedis. Lama studi pascasarjana selama 4 semester (2 tahun), maksimal 6 semester dan jika belum selesai berarti DO, tegas Suminto.

Bisa dikatakan UI sebagai pelopor Program Kajian. Contohnya, Kajian Ilmu Kepolisian serta Kajian Wanita hanya ada di kampus kuning ini. Atau Kajian Timur Tengah dan Islam dengan peminatan (dulu disebut ”kekhususan’) Ekonomi Syariah baru ada di 2 universitas di Indonesia. Padahal, SDM yang paham Ekonomi Syariah sekarang ini sangat dibutuhkan seiring pertumbuhan bisnis berbasis syariah.

Sejalan dengan peran akademisi di masyarakat, semua tesis atau tugas akhir sarjana magister itu dapat diakses publik di Perpustakaan UI di Depok, Perpustakaan Nasional, dan LIPI. Selain itu, Program Pascasarjana UI memiliki 5 Pusat Penelitian terbuka untuk umum. Yaitu, Pusat Penelitian SDM dan Lingkungan, Pranata Pembangunan, Pusat Penelitian Stratejik dan Pertahanan, Pusat Studi dan Pengembangan Teknologi Biomedis, dan Pusat Riset Ilmu Kepolisian.

Jika tertarik, silahkan mendaftar dan mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA). Syarat lain harus lulus tes Bahasa Inggris dengan skor TOEFL minimal 400. Baik TPA maupun Tes Bahasa Inggris dilakukan oleh UI.

Biaya per semester antara Rp7,5-10 juta. Dengan sistem pembukaan mahasiswa baru 2 kali setahun, semester ganjil dan genap, dan terselenggara dalam Ujian Masuk Bersama, semakin memudahkan masyarakat memperkaya ilmu dan menambah wawasan. (DEWI RETNO)