(Advertorial Carrefour Indonesia - Travelounge No.5 edisi April 2010)
Saturday, May 29, 2010
Peritel Internasional Citarasa Indonesia
(Advertorial Carrefour Indonesia - Travelounge No. 4 edisi Maret 2010)
Pasar modern (hipermarket) menyediakan berbagai pilihan barang sekaligus memahami kebutuhan setempat.
Belanja bukan lagi sekadar kegiatan membeli barang kebutuhan. Ada yang menambahkannya sebagai pelepas penat, atau acara bersama keluarga.
Sehingga belakangan ini hipermarket atau pasar modern menjadi pilihan tempat belanja –khususnya- di kota-kota besar. Tempat belanja yang nyaman, tertata rapi dalam rak-rak teratur, keamanan, dan harga tak perlu ditawar-tawar tapi cukup bersaing, adalah alasan melirik hipermarket.
Selain itu hipermarket buka setiap hari, termasuk di hari libur, dengan jam operasional antara 10.00-22.00 merupakan waktu yang sesuai bagi pekerja. Ini juga dirasakan cocok bagi para ibu rumah tangga yang baru bisa beraktivitas setelah mengurus anak berangkat atau pulang sekolah.
Kendati mayoritas konsumen hipermarket hanya berbelanja untuk kebutuhan bulanan, sering digunakan untuk tempat rekreasi sekadar melepas penat.
Saat ini banyak hipermarket yang juga menyediakan barang-barang sekunder hasil produksi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Carrefour adalah salah satunya. Penyediaan barang di Carrefour hampir selalu melibatkan sektor UKM. Salah satu contoh nyata adalah menghadirkan private label (label toko) untuk memberi pelanggan banyak pilihan produk, dan produsen label toko umumnya adalah sektor UKM.
Belum lama ini, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meminta pengusaha ritel modern membuka kesempatan bagi UKM. Alasannya, para pelaku bisnis ritel sangat berpengaruh dalam menggalakkan penggunaan produk lokal. Permintaan Ibu Menteri ini disambut positif para pertitel modern. Bahkan Carrefour menyerap produk lokal hingga mencapai 90 persen dimana 70 persennya berasal dari UKM.
Makanan tradisional dan kerajinan lokal sudah menjadi pemandangan mudah ditemui di gerai-gerai pasar modern.
UNESCO pada Oktober tahun lalu telah mengukuhkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Hal ini ditanggapi positif Carrefour yang secara khusus menyediakan gerai busana batik di konter tekstil sehingga konsumen bisa mendapatkan busana batik cantik dengan harga terjangkau.
Carrefour juga menerjemahkan kukuhan UNESCO dengan mempersilahkan associate Carrefour menggunakan batik di hari Jumat. Keren, rapi, dan sekaligus melestarikan budaya negeri sendiri.
Anda dapat mencari kue-kue jajanan pasar produksi UKM seperti kue serabi, putu mayang, pastel isi, siomay, hingga pempek palembang di gerai pasar modern ini.
Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai yang tersebar di berbagai kota. Seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Medan, Palembang, Batam, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. (***)
Pasar modern (hipermarket) menyediakan berbagai pilihan barang sekaligus memahami kebutuhan setempat.
Belanja bukan lagi sekadar kegiatan membeli barang kebutuhan. Ada yang menambahkannya sebagai pelepas penat, atau acara bersama keluarga.
Sehingga belakangan ini hipermarket atau pasar modern menjadi pilihan tempat belanja –khususnya- di kota-kota besar. Tempat belanja yang nyaman, tertata rapi dalam rak-rak teratur, keamanan, dan harga tak perlu ditawar-tawar tapi cukup bersaing, adalah alasan melirik hipermarket.
Selain itu hipermarket buka setiap hari, termasuk di hari libur, dengan jam operasional antara 10.00-22.00 merupakan waktu yang sesuai bagi pekerja. Ini juga dirasakan cocok bagi para ibu rumah tangga yang baru bisa beraktivitas setelah mengurus anak berangkat atau pulang sekolah.
Kendati mayoritas konsumen hipermarket hanya berbelanja untuk kebutuhan bulanan, sering digunakan untuk tempat rekreasi sekadar melepas penat.
Saat ini banyak hipermarket yang juga menyediakan barang-barang sekunder hasil produksi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Carrefour adalah salah satunya. Penyediaan barang di Carrefour hampir selalu melibatkan sektor UKM. Salah satu contoh nyata adalah menghadirkan private label (label toko) untuk memberi pelanggan banyak pilihan produk, dan produsen label toko umumnya adalah sektor UKM.
Belum lama ini, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meminta pengusaha ritel modern membuka kesempatan bagi UKM. Alasannya, para pelaku bisnis ritel sangat berpengaruh dalam menggalakkan penggunaan produk lokal. Permintaan Ibu Menteri ini disambut positif para pertitel modern. Bahkan Carrefour menyerap produk lokal hingga mencapai 90 persen dimana 70 persennya berasal dari UKM.
Makanan tradisional dan kerajinan lokal sudah menjadi pemandangan mudah ditemui di gerai-gerai pasar modern.
UNESCO pada Oktober tahun lalu telah mengukuhkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Hal ini ditanggapi positif Carrefour yang secara khusus menyediakan gerai busana batik di konter tekstil sehingga konsumen bisa mendapatkan busana batik cantik dengan harga terjangkau.
Carrefour juga menerjemahkan kukuhan UNESCO dengan mempersilahkan associate Carrefour menggunakan batik di hari Jumat. Keren, rapi, dan sekaligus melestarikan budaya negeri sendiri.
Anda dapat mencari kue-kue jajanan pasar produksi UKM seperti kue serabi, putu mayang, pastel isi, siomay, hingga pempek palembang di gerai pasar modern ini.
Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai yang tersebar di berbagai kota. Seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Medan, Palembang, Batam, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. (***)
Semua Ada di Hipermarket
(Rubrik Shopping - Travelounge No. 4 Maret 2010)
Kehadiran pasar modern seperti Carrefour, Giant dan Hypermart menjanjikan belanja praktis di satu tempat.
Bagi bocah belia di era sebelum 90-an, apa kenangan dalam benak Anda tentang pasar? Acara menemani ibu berbelanja yang semula riang gembira berubah sengsara gara-gara kondisi pasar yang becek, pengap, bau, ditambah tukang ikan hanya sejengkal jarak dengan toko kelontong.
Kue serabi atau talam ubi sebagai hadiah menemani ibu jadi tak terasa nikmatnya.
Tapi kini lupakan ingatan Anda tentang pasar tempat berpeluh keringat akibat ruangan miskin ventilasi udara.
Beberapa tahun belakangan hipermarket mengubah cara belanja masyarakat Indonesia. Jenis peritel yang diambil dari asal kata hypermarket, yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai pasar modern ini menawarkan berbelanja dalam suasana nyaman, praktis, sekaligus lengkap.
Hipermarket muncul di kota-kota besar dalam kurun 10 tahun belakangan ini.
Umumnya pasar modern menjadi anchor tenant atau penyewa ruang di pusat-pusat perbelanjaan strategis. Dengan demikian, pengunjung bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pengelola pusat perbelanjaan.
Ambil contoh keberadaan Carrefour di Blok M Square. Blok M Square dahulunya adalah pasar Melawai Blok M dan Aldiron Plaza yang dikembangkan menjadi suatu trade mall di daerah Jakarta Selatan. Carrefour menempati lantai 2 dan 3.
Bagi pembelanja yang enggan menitipkan tas berisi laptop bisa minta pada petugas di depan pintu masuk untuk mengaitkan semacam lock tag ke retsleting tas. Sehingga selama berbelanja, tas Anda dalam kondisi terkunci yang nantinya baru bisa dibuka oleh pelayan kasir.
Tentu ini demi keamanan bagi si pihak toko, sekaligus demi kenyamanan konsumen agar terhindar dari tangan jahil saat si empunya tas tengah asyik memilih barang.
Ruang belanja yang luas berpengaruh pada penyediaan barang yang serba ada. Tinggal bawa daftar belanja, lalu pilih produk sesuai selera. Tentukan berdasarkan merek, ukuran kebutuhan, serta harga.
Seperti penulis lepas Merry Magdalena yang berdomisili di Depok. Ibu satu putri ini merasa dipermudah dalam berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan kehadiran dua mal besar di sekitar rumahnya, yakni Depok Town Square dan Margo City.
Depok Town Square atau disingkat Detos mempunyai gerai Hypermart, sementara di Margo City memiliki Giant sebagai anchor tenant.
"Saya lebih sering ke Giant karena lokasi lebih dekat, tak perlu menyeberang, sehingga praktis. Termasuk beli makanan dan cemilan untuk putri saya," kata Merry.
Untuk urusan makanan, Carrefour, Giant dan Hypermart punya banyak ruang bagi konter makanan. Mau beli jajanan pasar, bakery & pastry, makanan khas pempek palembang yang bakal digoreng ketika Anda pesan, atau mengudap soto mie hangat-hangat langsung di tempat. Karena mereka pun memiliki semacam kafetaria di dalam areal belanja.
Selain ragam barang, kelebihan yang disediakan oleh pasar modern adalah penataan gerai yang rapi, sistematis dan terpisah. Bagi pembelanja yang pergi bersama keluarga, hipermarket memudahkan Anda dengan menyediakan children cart, troli belanja berbentuk mobil-mobilan agar si kecil tenang selama Anda memilih barang.
Praktis berbelanja dalam satu tempat. Ini yang ditawarkan karena hipermarket.
Sudah pasti gunakan daftar belanja jika ingin berbelanja di sana. Ini bertujuan agar Anda tetap fokus dengan kebutuhan dan bukan keinginan. Namun karena ini pasar modern dimana beragam barang tersedia, bisa jadi Anda memang menemukan benda yang selama ini dicari.
Jika membawa anak, sebaiknya membawa asisten atau anggota keluarga yang lebih tua. Sehingga bisa membantu mengawasi si kecil.
Sudah pasti tempat berbelanja bakal penuh pengunjung di akhir pekan dan hari libur. Siasati dengan datang awal, biasanya hipermarket buka pada pukul 10.00. Kalau Anda datang pada saat toko baru buka, selain suasana masih relatif sepi dan lebih leluasa belanja.
Perhatikan pula brosur yang dicetak oleh peritel yang isinya penawaran harga khusus. Brosur ini biasanya disediakan di depan pintu masuk, berisi penawaran harga diskon untuk produk-produk tertentu atau dalam penawaran beli 2 gratis 1.
Tentu saja, kenakan busana dan alas kaki senyaman mungkin. Selamat berbelanja!
(**)
Kehadiran pasar modern seperti Carrefour, Giant dan Hypermart menjanjikan belanja praktis di satu tempat.
Bagi bocah belia di era sebelum 90-an, apa kenangan dalam benak Anda tentang pasar? Acara menemani ibu berbelanja yang semula riang gembira berubah sengsara gara-gara kondisi pasar yang becek, pengap, bau, ditambah tukang ikan hanya sejengkal jarak dengan toko kelontong.
Kue serabi atau talam ubi sebagai hadiah menemani ibu jadi tak terasa nikmatnya.
Tapi kini lupakan ingatan Anda tentang pasar tempat berpeluh keringat akibat ruangan miskin ventilasi udara.
Beberapa tahun belakangan hipermarket mengubah cara belanja masyarakat Indonesia. Jenis peritel yang diambil dari asal kata hypermarket, yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai pasar modern ini menawarkan berbelanja dalam suasana nyaman, praktis, sekaligus lengkap.
Hipermarket muncul di kota-kota besar dalam kurun 10 tahun belakangan ini.
Umumnya pasar modern menjadi anchor tenant atau penyewa ruang di pusat-pusat perbelanjaan strategis. Dengan demikian, pengunjung bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pengelola pusat perbelanjaan.
Ambil contoh keberadaan Carrefour di Blok M Square. Blok M Square dahulunya adalah pasar Melawai Blok M dan Aldiron Plaza yang dikembangkan menjadi suatu trade mall di daerah Jakarta Selatan. Carrefour menempati lantai 2 dan 3.
Bagi pembelanja yang enggan menitipkan tas berisi laptop bisa minta pada petugas di depan pintu masuk untuk mengaitkan semacam lock tag ke retsleting tas. Sehingga selama berbelanja, tas Anda dalam kondisi terkunci yang nantinya baru bisa dibuka oleh pelayan kasir.
Tentu ini demi keamanan bagi si pihak toko, sekaligus demi kenyamanan konsumen agar terhindar dari tangan jahil saat si empunya tas tengah asyik memilih barang.
Ruang belanja yang luas berpengaruh pada penyediaan barang yang serba ada. Tinggal bawa daftar belanja, lalu pilih produk sesuai selera. Tentukan berdasarkan merek, ukuran kebutuhan, serta harga.
Seperti penulis lepas Merry Magdalena yang berdomisili di Depok. Ibu satu putri ini merasa dipermudah dalam berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan kehadiran dua mal besar di sekitar rumahnya, yakni Depok Town Square dan Margo City.
Depok Town Square atau disingkat Detos mempunyai gerai Hypermart, sementara di Margo City memiliki Giant sebagai anchor tenant.
"Saya lebih sering ke Giant karena lokasi lebih dekat, tak perlu menyeberang, sehingga praktis. Termasuk beli makanan dan cemilan untuk putri saya," kata Merry.
Untuk urusan makanan, Carrefour, Giant dan Hypermart punya banyak ruang bagi konter makanan. Mau beli jajanan pasar, bakery & pastry, makanan khas pempek palembang yang bakal digoreng ketika Anda pesan, atau mengudap soto mie hangat-hangat langsung di tempat. Karena mereka pun memiliki semacam kafetaria di dalam areal belanja.
Selain ragam barang, kelebihan yang disediakan oleh pasar modern adalah penataan gerai yang rapi, sistematis dan terpisah. Bagi pembelanja yang pergi bersama keluarga, hipermarket memudahkan Anda dengan menyediakan children cart, troli belanja berbentuk mobil-mobilan agar si kecil tenang selama Anda memilih barang.
Praktis berbelanja dalam satu tempat. Ini yang ditawarkan karena hipermarket.
Sudah pasti gunakan daftar belanja jika ingin berbelanja di sana. Ini bertujuan agar Anda tetap fokus dengan kebutuhan dan bukan keinginan. Namun karena ini pasar modern dimana beragam barang tersedia, bisa jadi Anda memang menemukan benda yang selama ini dicari.
Jika membawa anak, sebaiknya membawa asisten atau anggota keluarga yang lebih tua. Sehingga bisa membantu mengawasi si kecil.
Sudah pasti tempat berbelanja bakal penuh pengunjung di akhir pekan dan hari libur. Siasati dengan datang awal, biasanya hipermarket buka pada pukul 10.00. Kalau Anda datang pada saat toko baru buka, selain suasana masih relatif sepi dan lebih leluasa belanja.
Perhatikan pula brosur yang dicetak oleh peritel yang isinya penawaran harga khusus. Brosur ini biasanya disediakan di depan pintu masuk, berisi penawaran harga diskon untuk produk-produk tertentu atau dalam penawaran beli 2 gratis 1.
Tentu saja, kenakan busana dan alas kaki senyaman mungkin. Selamat berbelanja!
(**)
Tuesday, December 29, 2009
Profesi Kreatif yang Menjanjikan
(Dimuat di : PCplus No. 348, 8-21 Desember 2009)
Hidupnya industri komputer berdampak pada jenis industri lainnya. Salah satunya adalah industri kreatif seperti desain multimedia, periklanan, illustrator, dan desain interior.
Di arena animasi digital misalnya, film kartun animasi “Finding Nemo” besutan Disney/Pixar berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp 290 miliar, sementara “The Incredibles”, yang pembuatannya memakan biaya Rp 874 miliar, sukses meraup laba hingga Rp 1,37 triliun khusus di pasar AS saja setelah ditayangkan selama 10 hari.
Di kancah permainan, industri game di AS sukses mencetak pendapatan sekitar Rp 60 triliun sepanjang tahun 2005. Art director, dan art designer disebut-sebut merupakan tenaga yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan game – peluang bagi Anda yang berminat bekerja sambil bermain.
Kreativitas Bisa Diciptakan
Berminat menjadi seorang profesional di bidang seni dan desain?
Anda tak perlu mengkhawatirkan soal kurang atau tidak adanya bakat sejak lahir atau talenta. Anda bisa mempelajari keahlian yang dibutuhkan di sekolah-sekolah formal di bidang seni dan desain. Intinya, kreativitas bisa diciptakan, tidak semata ada karena memang dikaruniai bakat terpendam.
Kini, sekolah-sekolah desain tak hanya memadukan program yang akan mengasah rasa seni mahasiswa. Mereka juga melatih intuisi bisnis supaya peserta didiknya bisa langsung aplikatif ketika terjun ke dunia kerja sebagai pegawai ataupun menciptakan usaha sendiri.
Desain Grafis & Ilustrasi
Sebagai contoh, sebuah sekolah desain di Malaysia memiliki silabus Desain Komunikasi dengan pilihan program Graphic Design & Illustration dan Multimedia Design.
Jurusan Desain Grafis dan Ilustrasi akan mengajak peserta studi berpikir kreatif dalam memanfaatkan program piranti lunak yang tersedia. Para lulusan berpeluang bekerja di berbagai bidang seperti studio desain, rumah iklan, konsultan merek dan identitas, media, corporate-In-house Design, serta percetakan.
Selain itu, lulusan sekolah tersebut juga bisa saja membuka studio sendiri dengan kemampuannya mendesain sampul buku, iklan, webpage, logo/identitas korporat, sampai menghasilkan merek dagang dan identitas suatu produk. Sedangkan sebagai pekerja profesional, ia dapat merintis karier sebagai direktur kreatif; illustrator, art director, design director, type designer, komikus, desainer ekshibisi hingga account executive.
Desain Multimedia
Sedangkan program Desain Multimedia siap membekali siswanya kemampuan multimedia interaktif atau keahlian untuk menggunakan teknologi komputer grafis atau proses media digital untuk menciptakan gambar, suara, dan media interaktif lainnya.
Dengan keahlian di bidang Animasi 2D dan 3D, serta video digital, mereka bisa menekuni profesi sebagai multimedia designer, web designer, video editor, motion graphic designer, art director, graphic designer, atau pengajar di ilmu terkait.
Sebagai jebolan program Desain Multimedia, Anda berpeluang bekerja di Studio Multimedia, Studio Animasi, perusahaan pembuat games dan piranti lunak, biro iklan, Production House (PH) atau agensi Web. (Dewi Retno)
Thursday, September 17, 2009
Bidang Kajian, Menelaah Lebih Dalam
Dimuat di : Koran Tempo, 3 Juni 2009
Program pascasarjana UI multidisiplin ilmu. Selama ini dikenal sebagai Program Kajian terdiri dari 11 program pilihan.
Saat ini Anda sudah meraih gelar Sarjana Strata-1 (S1), namun ingin menambah kemampuan akademik sekaligus memiliki integritas keilmuan yang tinggi di bidang multidisplin?
Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) adalah program studi Strata-2 (S2) dan S3 yang melatih para peserta mengkaji setiap masalah dari berbagai sudut pandang.
Program studi multidisiplin saat ini terdiri dari 11 Program Magister meliputi Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, Ilmu Lingkungan, Pengembangan Perkotaan, Kajian Kependudukan dan Ketenagakerjaan, dan Wilayah Amerika. Selain itu, terdapat Program Studi Kajian Wilayah Jepang, Kajian Wanita, Kajian Ilmu Kepolisian, Kajian Timur Tengah dan Islam, Kajian Wilayah Eropa dan Teknologi Biomedis.
“Program pascasarjana bertujuan melahirkan lulusan yang punya keahlian atau kemampuan akademik lebih dalam, dan lebih luas serta keilmuan lebih tinggi,” kata Suminto, S.Sos., B.Ak., M.Si, Manajer Program Pascasarjana UI di Jakarta, akhir pekan lalu.
Latar belakang S1 bebas, dan bila program tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan S1 peserta akan mendapat matrikulasi atau pra-program selama 1 semester, sebelum lulus Tes Potensi Akademik (TPA).
Menurut Suminto, jika 9 tahun sebelumnya peminat kebanyakan dosen. ”Belakangan ini tidak hanya kalangan akademisi, praktisi juga banyak yang tertarik (belajar),” katanya.
Sebagai contoh, wartawan Kompas Maria Hartiningsih peraih penghargaan penegakan hak asasi manusia di Indonesia Yap Thiam Hien pada 2003, merupakan alumnus Program Kajian Wanita.
Selain perkuliahan reguler, peserta juga mengerjakan riset, studi mandiri, tugas-tugas, atau praktikum seperti di program Teknologi Biomedis. Lama studi pascasarjana selama 4 semester (2 tahun), maksimal 6 semester dan jika belum selesai berarti DO, tegas Suminto.
Bisa dikatakan UI sebagai pelopor Program Kajian. Contohnya, Kajian Ilmu Kepolisian serta Kajian Wanita hanya ada di kampus kuning ini. Atau Kajian Timur Tengah dan Islam dengan peminatan (dulu disebut ”kekhususan’) Ekonomi Syariah baru ada di 2 universitas di Indonesia. Padahal, SDM yang paham Ekonomi Syariah sekarang ini sangat dibutuhkan seiring pertumbuhan bisnis berbasis syariah.
Sejalan dengan peran akademisi di masyarakat, semua tesis atau tugas akhir sarjana magister itu dapat diakses publik di Perpustakaan UI di Depok, Perpustakaan Nasional, dan LIPI. Selain itu, Program Pascasarjana UI memiliki 5 Pusat Penelitian terbuka untuk umum. Yaitu, Pusat Penelitian SDM dan Lingkungan, Pranata Pembangunan, Pusat Penelitian Stratejik dan Pertahanan, Pusat Studi dan Pengembangan Teknologi Biomedis, dan Pusat Riset Ilmu Kepolisian.
Jika tertarik, silahkan mendaftar dan mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA). Syarat lain harus lulus tes Bahasa Inggris dengan skor TOEFL minimal 400. Baik TPA maupun Tes Bahasa Inggris dilakukan oleh UI.
Biaya per semester antara Rp7,5-10 juta. Dengan sistem pembukaan mahasiswa baru 2 kali setahun, semester ganjil dan genap, dan terselenggara dalam Ujian Masuk Bersama, semakin memudahkan masyarakat memperkaya ilmu dan menambah wawasan. (DEWI RETNO)
Program pascasarjana UI multidisiplin ilmu. Selama ini dikenal sebagai Program Kajian terdiri dari 11 program pilihan.
Saat ini Anda sudah meraih gelar Sarjana Strata-1 (S1), namun ingin menambah kemampuan akademik sekaligus memiliki integritas keilmuan yang tinggi di bidang multidisplin?
Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) adalah program studi Strata-2 (S2) dan S3 yang melatih para peserta mengkaji setiap masalah dari berbagai sudut pandang.
Program studi multidisiplin saat ini terdiri dari 11 Program Magister meliputi Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, Ilmu Lingkungan, Pengembangan Perkotaan, Kajian Kependudukan dan Ketenagakerjaan, dan Wilayah Amerika. Selain itu, terdapat Program Studi Kajian Wilayah Jepang, Kajian Wanita, Kajian Ilmu Kepolisian, Kajian Timur Tengah dan Islam, Kajian Wilayah Eropa dan Teknologi Biomedis.
“Program pascasarjana bertujuan melahirkan lulusan yang punya keahlian atau kemampuan akademik lebih dalam, dan lebih luas serta keilmuan lebih tinggi,” kata Suminto, S.Sos., B.Ak., M.Si, Manajer Program Pascasarjana UI di Jakarta, akhir pekan lalu.
Latar belakang S1 bebas, dan bila program tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan S1 peserta akan mendapat matrikulasi atau pra-program selama 1 semester, sebelum lulus Tes Potensi Akademik (TPA).
Menurut Suminto, jika 9 tahun sebelumnya peminat kebanyakan dosen. ”Belakangan ini tidak hanya kalangan akademisi, praktisi juga banyak yang tertarik (belajar),” katanya.
Sebagai contoh, wartawan Kompas Maria Hartiningsih peraih penghargaan penegakan hak asasi manusia di Indonesia Yap Thiam Hien pada 2003, merupakan alumnus Program Kajian Wanita.
Selain perkuliahan reguler, peserta juga mengerjakan riset, studi mandiri, tugas-tugas, atau praktikum seperti di program Teknologi Biomedis. Lama studi pascasarjana selama 4 semester (2 tahun), maksimal 6 semester dan jika belum selesai berarti DO, tegas Suminto.
Bisa dikatakan UI sebagai pelopor Program Kajian. Contohnya, Kajian Ilmu Kepolisian serta Kajian Wanita hanya ada di kampus kuning ini. Atau Kajian Timur Tengah dan Islam dengan peminatan (dulu disebut ”kekhususan’) Ekonomi Syariah baru ada di 2 universitas di Indonesia. Padahal, SDM yang paham Ekonomi Syariah sekarang ini sangat dibutuhkan seiring pertumbuhan bisnis berbasis syariah.
Sejalan dengan peran akademisi di masyarakat, semua tesis atau tugas akhir sarjana magister itu dapat diakses publik di Perpustakaan UI di Depok, Perpustakaan Nasional, dan LIPI. Selain itu, Program Pascasarjana UI memiliki 5 Pusat Penelitian terbuka untuk umum. Yaitu, Pusat Penelitian SDM dan Lingkungan, Pranata Pembangunan, Pusat Penelitian Stratejik dan Pertahanan, Pusat Studi dan Pengembangan Teknologi Biomedis, dan Pusat Riset Ilmu Kepolisian.
Jika tertarik, silahkan mendaftar dan mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA). Syarat lain harus lulus tes Bahasa Inggris dengan skor TOEFL minimal 400. Baik TPA maupun Tes Bahasa Inggris dilakukan oleh UI.
Biaya per semester antara Rp7,5-10 juta. Dengan sistem pembukaan mahasiswa baru 2 kali setahun, semester ganjil dan genap, dan terselenggara dalam Ujian Masuk Bersama, semakin memudahkan masyarakat memperkaya ilmu dan menambah wawasan. (DEWI RETNO)
Labels:
Info Pendidikan - Koran Tempo
Friday, August 7, 2009
Tulisan Dimulai dari Ide
(Eno, 10-3-2008)
Pernahkah kamu ‘mati ide’ dalam membuat tulisan? Saya sih pernah, bahkan sering. Makanya pekerjaan kantor berulangkali saya selesaikan menjelang tenggat (deadline). Atau ketika blog saya lama terbengkalai, tidak ada postingan baru gara-gara tidak punya ide.
Padahal, sebenarnya ’ide’ bisa diperoleh dari mana saja dan kapan saja. Ketika tengah menikmati siraman air di saat mandi, membaca buku, menonton televisi, mendengar berita di TV atau radio, bahkan saat terjebak dalam kemacetan.
Masalahnya, bagaimana agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya lupa akibat kesibukan pekerjaan, atau akhirnya topik itu tidak menarik lagi untuk diulas.
Oleh karenanya, supaya tidak lupa, segera catat ide yang terlintas di dalam benak kita, ke dalam block note. Selain notes atau block note, kita bisa simpan ide ke dalam menu pesan pendek/sms di handphone, communicator, dan folder khusus di dalam laptop.
Sebaiknya, memampatkan ide tsbt ke dalam sebuah judul. Mengapa ”Judul”? Karena judul itu menyederhanakan gagasan ke dalam bentuk yang singkat. Ide berupa judul paling tidak sudah menggambarkan pikiran kreatif kita.
Bisa pula saat itu kamu sudah menemukan judul dan beberapa data pendukung yang ingin kamu masukkan ke dalam tulisan.
Jangan lupa untuk mengolah ide menjadi satu tulisan utuh. Ketika kita bakal mengolah satu judul menjadi tulisan, jabarkan Judul itu ke dalam Outline (kerangka tulisan).
Outline atau kerangka tulisan membantu kita dalam menentukan bentuk/isi tulisan. Kerangka tulisan ini bisa berupa tulisan per paragraf/alinea.
Supaya ide tidak menguap karena ’basi’ atau kelamaan dan terlupakan, deadline menjadi cara terbaik untuk merealisasikan ide. Yah, kalau untuk advertorial atau pemuatan artikel yang memang tugas kantor saya sehari-hari, maka tulisan itu memiliki tenggat tayang yang sudah menjadi harga mati.
Nah, bagaimana kalau kita perlakukan pula tulisan di blog dengan tenggat publikasi atau deadline pula?!
(Gambar : Koran Tempo, Info Belanja 27-4-2007, dedicted to Adidas)
Pernahkah kamu ‘mati ide’ dalam membuat tulisan? Saya sih pernah, bahkan sering. Makanya pekerjaan kantor berulangkali saya selesaikan menjelang tenggat (deadline). Atau ketika blog saya lama terbengkalai, tidak ada postingan baru gara-gara tidak punya ide.
Padahal, sebenarnya ’ide’ bisa diperoleh dari mana saja dan kapan saja. Ketika tengah menikmati siraman air di saat mandi, membaca buku, menonton televisi, mendengar berita di TV atau radio, bahkan saat terjebak dalam kemacetan.
Masalahnya, bagaimana agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya lupa akibat kesibukan pekerjaan, atau akhirnya topik itu tidak menarik lagi untuk diulas.
Oleh karenanya, supaya tidak lupa, segera catat ide yang terlintas di dalam benak kita, ke dalam block note. Selain notes atau block note, kita bisa simpan ide ke dalam menu pesan pendek/sms di handphone, communicator, dan folder khusus di dalam laptop.
Sebaiknya, memampatkan ide tsbt ke dalam sebuah judul. Mengapa ”Judul”? Karena judul itu menyederhanakan gagasan ke dalam bentuk yang singkat. Ide berupa judul paling tidak sudah menggambarkan pikiran kreatif kita.
Bisa pula saat itu kamu sudah menemukan judul dan beberapa data pendukung yang ingin kamu masukkan ke dalam tulisan.
Jangan lupa untuk mengolah ide menjadi satu tulisan utuh. Ketika kita bakal mengolah satu judul menjadi tulisan, jabarkan Judul itu ke dalam Outline (kerangka tulisan).
Outline atau kerangka tulisan membantu kita dalam menentukan bentuk/isi tulisan. Kerangka tulisan ini bisa berupa tulisan per paragraf/alinea.
Supaya ide tidak menguap karena ’basi’ atau kelamaan dan terlupakan, deadline menjadi cara terbaik untuk merealisasikan ide. Yah, kalau untuk advertorial atau pemuatan artikel yang memang tugas kantor saya sehari-hari, maka tulisan itu memiliki tenggat tayang yang sudah menjadi harga mati.

Nah, bagaimana kalau kita perlakukan pula tulisan di blog dengan tenggat publikasi atau deadline pula?!
(Gambar : Koran Tempo, Info Belanja 27-4-2007, dedicted to Adidas)
Kiat Menulis : Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data
(Dimuat di Netsains.com, 30-8-2007)
Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?
Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.
Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.
Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.
Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.
"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."
Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".
Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.
Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.
Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.
Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.
Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.
Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.
Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?
Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.
Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.
Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.
Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.
"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."
Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".
Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.
Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.
Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.
Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.
Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.
Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.
Subscribe to:
Posts (Atom)

