Wednesday, August 1, 2012

Pemerintah Kabupaten Enrekang - Potensi Daerah Seharum Kopi Arabika


Pemerintah Kabupaten Enrekang

Potensi Daerah Seharum Kopi Arabika

Berkonsentrasi pada pertanian non-kelautan dengan pembangunan daerah berkonsep agropolitan.

(diterbitkan di : Koran Tempo, Indonesia Kini, Rabu 6 Juni 2012)

Bagi pecandu kopi, mungkin pernah mendengar nama kopi Kalosi? Kenikmatan citarasa kopi ini telah terkenal seantero dunia dan telah dipatenkan oleh pengusaha Amerika Serikat.  Namun mungkin tidak banyak yang tahu kalau kopi yang berasal dari tumbuhan bernama latin Arabica typica ini hanya tumbuh di tiga negara, salah satunya di Indonesia tepatnya di wilayah kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
   
Oleh karenanya pemerintah kabupaten (pemkab) Enrekang kini mematenkan jenis kopi ini dengan nama Bungin Kopi. Sertifikat ini telah diterbitkan oleh Departemen Perindustrian RI pada Februari 2010.  Selain itu Pemkab juga telah mematenkan jenis kopi arabika lain, yaitu Duri Enrekang Kopi (Dekopi).

 “Harapan kami dengan adanya hak paten kopi berdasarkan indikasi geografis, supaya kopi arabika Enrekang dipercaya dunia dari segi cita rasa,” kata Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung di Jakarta beberapa waktu lalu. Tentu saja ini hal ini akan mendukung pemasaran dan mengembalikan kejayaan  kopi Enrekang yang dulu telah dikenal memiliki cita rasa yang diakui dunia.

Keberhasilan dua kelompok tani dari kabupaten Enrekang sebagai juara pertama dan kedua dalam Kontes Kopi Specialty Indonesia 2008 berlangsung di Jember, Jawa Timur, membuktikan Bungin Kopi unggul dalam kompetisi yang melombakan aroma dan citarasa berbagai komoditas kopi dari seluruh daerah penghasil kopi di tanah air.

Prestasi inilah yang membuat Pemkab Enrekang diundang pemerintah Jerman untuk mengikuti pameran kopi di Jerman, Mei 2010 lalu.  

Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan ini berkonsentrasi pada pertanian non perikanan laut. Potensi pertanian padi dan palawija menyebar merata disetiap kecamatan, dengan jenis tanaman seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah. Selain itu menjadi daerah penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan.
Ragam tanaman dihasilkan, mulai dari kentang, kubis, sawi, tomat, bawang merah, daun bawang, cabai, buncis dan wortel. Ada durian, pepaya, pisang, rambutan, nanas, markisa, alpukat dan mangga.

Tanaman perkebunan andalan yaitu kelapa, kapuk, kopi, cengkeh, lada, kakao, kemiri dan jambu mete. Daerah penanaman kopi dan cengkeh banyak dihasilkan di Baraka, Alla, dan Curio. Sementara lada  di Baraka dan Malua. Kakao di Enrekang dan Kecamatan Maiwa.

Menurut La Tinro La Tunrung, pemkab telah mengucurkan kredit tanpa bunga kepada para petani untuk meningkatkan hasil pertanian di daerah ini. Program ini telah mampu mendorong peningkatan kesejahteraan dan produktivitas para petani.

Pada akhir  2007 pencanangan sebagai daerah sentral komoditi kentang Sulawesi Selatan menjadi salah satu agenda penting La Tinro La Tunrung. Bertempat di kecamatan Masalle, dilakukan panen raya Kentang Kalosi yang dihadiri oleh Sesmenristek, LIPI, Universitas Hasanuddin (Unhas), dan instansi terkait. Kentang kalosi ini sebenarnya sudah hampir punah, sehingga pemkab Enrekang bekerjasama dengan tim Unhas melakukan pemurnian dengan menggunakan sistem kultur jaringan.

“Tanaman yang menggunakan pupuk organik juga perlu terus dibudidayakan karena sayur mayur menjadi komoditi tidak kalah penting bagi kemakmuran rakyat,” ujarnya.

Pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan menjadi satu diantara sekian program utama pemerintah Kabupaten Enrekang. Salah satu realisasi dari program ini adalah pembuatan jalan beton yang menghubungkan sejumlah kecamatan. Pembangunan jalan ini diharapkan mampu membuka akses bagi daerah-daerah yang terisolir, serta mampu meningkatkan produktivitas ekonomi di kecamatan dan desa-desa.

Guna menjadi daerah agropolitan, pemkab Enrekang membangun Sub Terminal Agro yang bertempat di Cece, Desa Sumillan, kecamatan Alla, yang menjadi tempat lelang komoditi pertanian  untuk pertama kalinya di Sulawesi Selatan. (Dewi Retno)



Wednesday, June 6, 2012

Alasan Penulis Menulis



Gambar ini saya ambil dari Pinterest. Membuat saya jadi timbul ide untuk menuangkan dan mengingatkan diri untuk tujuan saya menulis. 


Apa saja alasan kita perlu membuat tulisan?
- Menulis telah menjadi passion....

- Menulis merupakan profesi, Penulis Profesional, yang mendapat uang dari tulisan yang dibuat.
- Menuangkan ide, pengalaman dan berita ke dalam bahasa tertulis.
- Aktualisasi diri. Seseorang yang ahli dalam bidang tertentu, perlu membuat tulisan terkait bidang yang dia kuasai untuk dipublikasikan di media cetak/media elektronik agar dirinya diakui dalam kompetensinya. 


Ada alasan-alasan lain, yang bisa di-share? 

Tuesday, May 1, 2012

Bekerja Adalah Ibadah


Pada suatu sesi kuliah Komunikasi Organisasi, membahas tentang Budaya dan Iklim Organisasi. Sampai pada sesi pertanyaan, apa tujuan Anda (peserta kuliah) bekerja. Kemudian terlontar jawaban seperti : memperoleh gaji, atau saya lebih melihat bekerja sebagai wujud eksistensi dan aktualisasi diri.
Silahkan jawab macam-macam, sesuai isi pikiran Anda…

Tapi yang mengena pada saya ketika Bapak Dosen mengatakan ada satu kalimat bijaksana yang sesuai dengan tujuan kita bekerja di usia produktif: BEKERJA ADALAH IBADAH.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , “ibadah” mengandung pengertian sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kuliah malam itu sangat cocok bagi orang-orang yang dalam kondisi demotivated dalam bekerja, atau memaknai kembali mengapa dia rela setiap hari bangun pagi, mandi, sarapan, bergegas menuju tempat beraktivitas. Kadang mengalami hari mendung dan di lain waktu mentari bersinar cerah menemani diri.
Jika bekerja adalah ibadah, berarti kita mampu bersyukur atas berkah Yang Kuasa dimana kita bisa memberikan kemampuan kita untuk kebaikan diri sendiri, bersama dan organisasi tempat kita bernaung. Alhamdullilah juga jika itu memberi berkah berkelanjutan bagi masyarakat, meskipun itu tidak berimbas secara langsung.

Untuk semangat bekerja, kita membutuhkan Motivasi, dan hal ini tercipta melalui dua cara:
1.  Motivasi berasal dari dalam diri sendiri.
2.  Motivasi diciptakan oleh orang lain. Karena konteks pembicaraan malam itu tentang budaya organisasi (perusahaan swasta, perusahaan negara, lembaga swadaya dsb), maka bisa jadi motivasi itu muncul karena lingkungan yang mendukung. Misalkan ada hadiah bagi pekerja yang berkinerja baik, penghargaan, atau pimpinan yang menciptakan iklim kondusif. Seorang pimpinan menentukan iklim lingkungan yang dia pimpin. Sehingga akan tergantung pimpinan yang berkuasas dan bagaimana anak buah merespon.
Sehingga dalam suatu konsep organisasi dikenal faktor “X Efficiency” yaitu faktor X mengapa misalkan ada dua karyawan yang diterima dalam waktu sama di suatu perusahaan, namun tidak memiliki kondisi termotivasi yang sama.

Jadi, sudah bisa mendapat gambaran tentang bagaimana Anda mewujudkan rasa bekerja sebagai ibadah?
Izinkan saya mengutip kembali sebuah penggalan puisi yang diciptakan oleh Kahlil Gibran yang dulu sangat saya sukai untuk memotivasi saya berkarya:
Kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan apabila engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka akan lebih baik jika engkau meninggalkannya, dan mengambil tempat di depan gapura candi dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cinta …
(Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Jika tertarik mengetahui lebih lanjut tentang Budaya dan Iklim Organisasi dari sudut Ilmu Komunikasi, bisa membaca buku Organizational Communication 6th Edition oleh Gerald M. Goldhaber (Penerbit: McGrawHill) dan Komunikasi Organisasi – Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan oleh R. Wayne Pace & Don. F. Faules (edisi bahasa Indonesia, dengan editor Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung) sebagai rujukan. 

(Gambar dikutip dari: http://www.bee-communications.com) 

Tuesday, October 18, 2011

Belajar dari Cara Menkes Memberi Pidato Sambutan yang Menarik

Selasa 18 Oktober 2011 saya datang ke sebuah acara yang berlangsung di kawasan Thamrin Jakarta Pusat. Acara tersebut diselenggarakan oleh sebuah optik  terkemuka di Indonesia dan saya tentu hadir dalam kapasitas sebagai penulis iklan (copywriter). Optik tersebut mengadakan kontrak kerjasama pembuatan advertorial.

Acara berupa donasi kacamata bagi 1000 anak-anak ini dalam undangan ditulis berlangsung dari jam 09.30 pagi, namun ternyata hingga hampir jam 11.00 wib acara belum mulai. Semua sudah gelisah. Tamu-tamu cilik alias murid-murid sudah tampak suntuk dan adapula yang sempat menangis resah sehingga ditenangkan oleh guru. Rombongan anak Sekolah Dasar yang berasal dari Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Pusat itu padahal sudah datang dari jam 8.00 wib.

Ngaret terjadi karena menunggu tamu kehormatan yang terdiri dari Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dan istri Gubernur DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo yang juga menjabat sebagai Kepala Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta, belum juga datang.

Anak-anak media pun mulai bosan. Kami bahkan melemparkan joke mungkin ibu-ibu itu masih sibuk mensasak rambut. Dan ketika rombongan datang tepat jam 11.00 wib, otomatis mata saya mengarah pada kepala. ”Hey.. kedua ibu ini tidak mengenakan sasak atau sanggul tinggi,” batinku.

Kedua ibu berambut pendek. ”Ohhh bukan sasakan dong yaa....”.

Setelah pidato pembukaan dari Lions Club, Menkes Endang Rahayu maju ke podium untuk memberikan kata sambutan. Saya belum pernah meliput acara dengan Menkes ini sebagai pemberi pidato sambutan. Saat melihat parasnya saat maju ke podium, saya membayangkan seorang yang tegas, dan gaya tenang memberikan salam pembuka dan sebagainya hingga Menkes berkata, ”Adik-adik kok wajahnya lesu. Sudah datang jam berapa kesini?”

Anak-anak itu secara polos menjawab nyaring datang pada jam 8.00 wib. Ibu berkacamata itu tersenyum tipis dan berkata, “Maaf tadi saya harus ke Jakarta Timur dulu untuk meresmikan imunisasi campak dan polio. Kalau kacamata ini untuk anak Sekolah Dasar (...dia ingat garis besar Donasi ditujukan bagi anak SD....). Adik-adik sudah dapat imunisasi? Lupa ya karena masih kecil. Bedanya imunisasi ini untuk anak balita. Di rumah coba tanyakan apa adik kecilnya sudah dapat imunisasi itu bedanya kalau campak berbentuk suntikan, sedangkan polio dalam bentuk tetes yang manis rasanya,” suaranya tenang menjelaskan.

Saya pribadi pun menjadi duduk manis menyimak. Sebagai audiens saya tertarik dengan caranya minta maaf atas keterlambatannya dan masuk ke bahasan lain yang membuat kita mulai lupa ‘kesalahan terlambat’ dan menggiringnya ke topik lain yang informatif.

Menkes lalu menyinggung slide presentasi yang ditampilkan sebelumnya, dan menyebutkan kalau gambaran khas tentang anak-anak adalah senyumnya. Kemudian Menkes mengajak anak-anak tersenyum bahkan tertawa memamerkan gigi. ”Tidak ompong ternyata,” kurang lebih dia berkata demikian. Anak-anak ketawa. Apa ini maksudnya menyindir sekedar cari lelucon? Ternyata ibu itu menjelaskan anak berusia kelas 1-2 SD khas dengan 2 gigi besar di depan atau gigi kelinci, sedangkan yang tertawa di hadapannya punya tampilan gigi rapi sehingga dia memperkirakan kelas 4 s/d 6 yang kemudian diamini pihak Optik kalau anak-anak yang hadir duduk di kelas 3, 4, dan 5.

*she got the clue: blend her medicine background into information to the public.

Saya kembali terpesona…. Wanita itu memasukkan informasi yang membuat kita manggut-manggut dan membatin, “panteslah dia mengerti..wong dia dokter,” … intonasi suaranya tegas sekaligus tenang. Dengan artikulasi yang jelas.

Menkes secara akrab menasehati murid sekolah dasar itu resep mata sehat, yaitu agar tidak membaca buku di dalam kondisi pencahayaan ruangan yang kurang.

Ia melanjutkan himbauan kepada guru atau kepala sekolah yang mendampingi murid-murid agar memperhatikan pencahayaan di ruangan dalam kelas. “Jangan memilih cat tembok berwarna gelap, lebih baik warna terang. Hal lain yang bisa diupayakan pencahayaan langsung matahari dan atap tinggi,” katanya.

Endang pun menyisipkan kinerja kementerian dengan mengatakan tahun depan akan memasukkan  penyakit gigi dan mata sebagai salah satu yang dicegah dalam program kampanye promotif dan preventif penyakit tidak menular.
Saya merasa selama berpuluh kali meliput, baru kali menemukan gaya pidato menteri yang rileks, tidak perlu text-minded,  tidak harus angka-angka kinerja perusahaan (kementerian/departemen), dan gaya yang tenang.

Saya membagi pengalaman ini murni karena (merasa) gaya pidatonya bisa menjadi masukan ketika kita menjadi pembicara di depan audiens. Berikut tips yang coba kurangkum:
- Sebagai perempuan tidak perlu bergaya orator berapi-api (karena kodrat perempuan suaranya jg tidak mungkin bariton tinggi menggelegak),
- masukkan humor atau informasi ringan yang mengena,
- sikap diri yang tenang
- tahu audiens-nya siapa... terlihat Ibu Menteri ini lebih memusatkan pidato kepada audiens cilik yang berada di samping kanan saat ia berdiri di podium. Endang Rahayu menyampaikan informasi yang menarik perhatian anak-anak (baca: audiens-nya) bak guru TK mendongengkan cerita khayal yang bukan pengantar tidur, melainkan membuat anak menyimak apa akhir dari cerita,
- Dia juga berhasil ‘menyihir’ rekan-rekan lain dari bangku media dan penyelenggara acara. Ingat: fokus pada salah satu sayap peserta tapi sebagai pemberi pidato dia juga sesekali melakukan sapuan mata ke seluruh audiens yang hadir di dalam ruangan. 


(Gambar dikutip dari: SINDO)

Monday, December 13, 2010

BRAND’S Essence of Chicken


(Advertorial BRAND’S Essence of Chicken, dimuat di majalah Travelounge Edisi Desember 2010)


BRAND’S Essence of Chicken

Demi Kesehatan dan Konsentrasi Tinggi

Konsumsi suplemen kaya manfaat.


Desember tiba dan momen berlibur siap kita jelang. Jadwal cuti sudah disetujui, tiket pesawat terbang telah booking, tapi sebelum pergi harus menyelesaikan pekerjaan kantor.

Sudah bisa diduga kondisi yang harus dialami. Lembur dan bekerja ekstra keras sudah pasti membutuhkan konsentrasi tinggi. Setelah urusan kerja selesai malah penyakit datang gara-gara daya tahan tubuh ambruk.

Menghadapi kondisi seperti ini butuh asupan bergizi. Misalnya sari pati ayam BRAND’S Essence of Chicken yang telah terbukti melalui penelitian ilmiah mengandung banyak manfaat dibidang kesehatan.

Jika sari pati ayam dikonsumsi secara rutin tiap hari akan bermanfaat menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan daya pikir.

BRAND’S Essence of Chicken yang telah ada lebih dari 175 tahun, hingga  kini telah menghasilkan 27 riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Pengujian terhadap kemampuan membantu daya ingat telah terbukti melalui penelitian terhadap 20 orang mahasiswa universitas. Mereka dibagi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama mengonsumsi BRAND’S Essence of Chicken 70 gram dan kelompok lainnya mengonsumsi Placebo 2x sehari selama seminggu.

Kemudian pada hari ke-7 responden mengikuti tes daya pikir dan mood psikologi, ternyata kelompok pertama mempunyai tingkat kesalahan lebih rendah dalam tes Aritmatika dan tes daya ingat.

“Kelompok pengonsumsi BRAND’S Essence of Chicken punya daya pikir yang lebih responsif atau lebih cepat, dan terjadi peningkatan daya ingat dalam jangka pendek,” kata Hajime Nagai dalam Applied Human Science-Journal of Physiological Anthropology tentang fungsi ekstrak kaldu ayam terhadap pemulihan badan letih, kelelahan dan beban kerja yang diterbitkan pada 1996.

BRAND’S Essence of Chicken terbuat dari sari pati ayam yang 100 persen alami, tidak mengandung lemak, kolesterol, pengawet, kafein, dan MSG. Juga tanpa perasa, tidak menggunakan bahan pewarna dan bahan kimia lainnya.

Suplemen ini diolah dari ayam segar dan sehat berasal dari supplier terpilih dan dikemas dalam botol kaca yang tersimpan dalam keadaan vakum. Ini menjamin ketahanan produk selama 3 tahun.

Konsumsi satu botol perhari secara rutin agar mendapat manfaat kesehatan dan meningkatkan daya pikir.  Produk tersedia dalam 2 pilihan, 42 gram dan 70 gram. Nah, tak bakal mengalami libur hancur gara-gara daya tahan ambruk. (INFORIAL)

Tuesday, October 12, 2010

Mahir Komputer dari Bangku Formal

(Tulisan Pengantar untuk Suplemen Pendidikan Majalah Tempo, 25 Januari 2010)

Komputer sebagai sistem pengolah informasi telah mengubah wajah dunia dengan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang menyentuh segala bidang.

Kemajuan ini membawa dampak komputer masuk ke dalam bidang keilmuan di dunia pendidikan. Selain itu muncul pula kebutuhan sumber daya manusia yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Sejumlah perguruan tinggi menghadirkan program studi Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, atau Teknik Informatika.

Pilihan jenjang pendidikan juga beragam. Pendidikan vokasi atau diploma seperti Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK) Bina Sarana Informatika (BSI), program diploma Manajemen Informatika dan Teknik Komputer Universitas Gunadarma.

Kedua universitas ini juga punya pendidikan strata sarjana (S1) dan magister (S2) di bidang sistem informasi.

Akademisi sekaligus penggiat open source Dr. I Made Wiryana menjelaskan program diploma bisa menjawab kebutuhan dunia bisnis akan sumber daya manusia siap bekerja dan memiliki keterampilan. “Sedangkan yang kita harapkan dari seorang sarjana adalah mereka memiliki kemampuan analisis yang kuat,” kata Made Wiryana yang menjabat sebagai Koordinator Kerjasama Internasional Universitas Gunadarma.

Hal yang harus ditekankan adalah selama masa pendidikan mereka dibekali oleh ilmu-ilmu dasar yang kuat dan untuk menjawab kebutuhan siap pakai misalnya dengan menyediakan berbagai macam pelatihan bersertifikat.

Selain itu teknologi informasi bisa menjawab masalah lokal di Indonesia karena teknologi informasi bisa diaplikasikan di berbagai bidang studi.

Oleh karenanya muncul program studi lintas bidang seperti Akuntansi & Sistem Informasi; Matematika & Teknik Informatika; atau Statistika & Teknik Informatika.

Dan seiring dengan kemajuan ICT timbul pula ekonomi kreatif. Komputer bukan hanya untuk aplikasi teknik melainkan untuk menciptakan ilustrasi grafis, desain website, atau membangun brand produk atau institusi melalui komunikasi pemasaran atau marketing communication.

Sehingga muncul pula cabang keilmuan yang mengangkat sisi kreatifitas manusia, yaitu Desain Komunikasi Visual (DKV). Meski belum ada data valid tentang pertumbuhan peminat studi DKV secara umum di Indonesia, tapi ambil contoh jurusan DKV BINUS University yang setiap tahun ajaran baru menarik peminat sebanyak 1.500 orang.

“Padahal kapasitas siswa yang bisa kami terima sebanyak 495 orang melalui 9 kelas,” kata Fransiskus A. S. Arif, Marketing Manager BINUS University.

Apapun pilihan studi untuk bidang teknologi informasi, kembali ke mahasiswanya untuk aktif mencari keterampilan, melatih kemampuan komunikasi, dan kemandirian. (DEWI RETNO) 

Friday, September 24, 2010

Asah Pribadi Melalui Wawasan Kebangsaan

(Diterbitkan di Koran Tempo, Jumat 24 September 2010 – Advertorial; Klien : Universitas Krida Wacana (Ukrida) Jakarta)


Seminar mahasiswa yang menghadirkan pembicara dari para pakar, guna membangun proses diskusi, pola pikir dan kepribadian.


Rabu 22 September lalu, Aula Pertemuan Kampus II Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) dipadati mahasiswa. Mereka tidak hanya mengikuti seminar bertema “Wawasan Kebangsaan” karena mata kuliah wajib bagi mahasiswa baru.

Kehadiran Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno bagai magnit pemberi semangat mahasiswa untuk bertanya dan melontarkan pernyataan. Dalam sesi selama 1 jam lebih, tokoh Katolik dan budayawan Indonesia menyampaikan kuliah dalam tema “Nasionalisme Indonesia Masa Depan”.

Rasa nasionalisme dan kebangsaan Indonesia bukan terdapat dalam kesamaan budaya, agama atau letak geografis. Melainkan tekad bersama untuk membangun Indonesia dengan membangun kebangsaan (nation building).

Kita bisa lihat contoh bentuk rasa nasionalisme muncul ketika terjadi perseteruan batas antara Indonesia dan Malaysia belum lama ini.

Padahal tantangan persatuan bangsa saat ini berupa intoleransi dan kepicikan yang makin meluas, kemiskinan dan korupsi. Romo Magnis menyebutkan di era demokrasi yang muncul pasca reformasi 12 tahun lalu justru muncul kecurigaan antar umat beragama, intoleransi terhadap minoritas dan kebrutalan terhadap umat beragama.

“Kemudian ancaman terbesar dihadapi negara kita adalah korupsi. Ini membahayakan substansi moral, sosial dan kompetensi kita miliki. Orang menjadi tidak jujur dan tidak bertanggungjawab. Ia tidak mempedulikan kualitas output akan tetapi hanya mengejar keuntungan pribadi,” kata Romo Magnis dalam presentasinya.

Dalam jangka panjang ketidakpuasan terhadap korupsi bisa membuka kesempatan masuknya tawaran ajaran Indonesia baru yang justru tidak terbuka dan tidak demokratis. Sehingga Romo Magnis menegaskan bangsa yang tidak jujur tidak bisa maju.

Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di depan para anak kuliah yang notabene generasi masa depan, menyatakan pola hidup konsumerisme, hedonisme, golput dan fanatik bisa menjadi ancaman yang menyeret generasi muda ke dalam korupsi, intoleransi dan kemiskinan.  

“Menjadi fanatik akan membawa sikap diri mutlak benar. Akibatnya kita menjadi bangsa yang hanya mau mengajar tanpa mau belajar,” ujarnya.

Romo Magnis pada bagian penutup berpesan agar anak muda membangun solidaritas, membela pluralisme, mensukseskan demokrasi dan berantas korupsi.

Wawasan kebangsaan merupakan salah satu cara membangun cinta tanah air yang memiliki definisi sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang didasari oleh falsafah, cita-cita, dan tujuan nasional. Di perguruan tinggi pemahaman ini diberikan melalui mata kuliah Kewiraan yang menjadi salah satu mata kuliah dasar di perguruan tinggi.

“Kami memang mengubah rangkaian sistem pembelajaran Mata Kuliah Dasar Umum yang sekarang disebut sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, supaya tidak hanya teori, tapi lebih hidup, lebih inspiratif, dengan cara mahasiswa langsung mendengar dari pakarnya,”  jelas Wakil Rektor III Ukrida, Evans Garey, SPsi., M.Si., tentang acara seminar.

Misalnya setelah mendengarkan presentasi dari Romo Magnis tentang kebangsaan di dalam seminar, mahasiswa bisa membahas topik ini dalam bentuk diskusi di kelas. “Mata kuliah ini menjadi lebih mengena kedalam diri mahasiswa, sehingga mendukung dalam proses pembentukan kepribadian mereka,” katanya.

Cara ini mulai diterapkan Ukrida mulai tahun ajaran ini (2010/2011) kepada mahasiswa baru yang terdiri dari fakultas Kedokteran, Ekonomi, Teknik, Teknologi Informasi dan Psikologi. (Inforial)